Giora Eipstein Sang Desert Aces dari Negeri Israel


Selepas Perang Dunia ke II,sangat jarang terjadi lagi pertempuran masif di udara antara pesawat tempur melawan pesawat tempur lainnya.Karenanya,bisa dimaklumi jika aces atau jago tempur udara pada masa usai PD II khususnya era jet,tidak lagi menorehkan angka fantastis dalam skor menjatuhkan pesawat musuh.


Tapi Giora Eipstein dari AU Israel adalah pengeculian.Sepanjang karier pilot tempurnya,Eipstein mencetak 17 kemenangan.Hal ini terasa istimewa karena AU Israel umumnya tak mengumumkan ace mereka secara resmi.

Skor pertama Eipstein diraih pada 6 Juni 1969 dalam Perang 6 Hari.Di selatan Israel,dua jet Mirage III dari 101st Squadron terbang ke arah timur mengarah ke Mesir.Pada posisi wingman adalah Letnan Giora Eipstein.Sebagai pilot muda,Eipstein hanya membukukan tiga misi tempur tanpa pernah menjatuhkan pesawat musuh.

Di ketinggian 20.000 kaki,sepasang Mirage III lainnya menyusul.Hal ini membuat Eipstein senewen.Dia pun berkata."Hei,kita teman,cari tempat lain saja."Layaknya predator,pilot tempur memiliki area berburu masing-masing.Karena kedatangannya pesawat lain dapat dirasakan mengganggu.

Akan tetapi sepasang Mirage III itu melakukan manuver Split-S dan meluncur ke bawah.Ternyata pada ketinggian rendah terdapat tiga pesawat Su-7 terbang menuju Mesir.Di belakang Su-7 itu ternyata sudah ada sepasang Mirage mengejar pula.Alhasil 7 jet Mirage III saling berkejaran di padang pasir dan menghamburkan tembakan.Tidak lama kemudian sebuah Su-7 tertembak,disusul satu buah lagi.Sisa satu Su-7 sudah kabur.

Hingga detik ini,Eipstein masih menonton pertunjukkan yang terjadi dibawahnya.Sebuah Mirage III mengekor Su-7 yang kabur dan meluncurkan rudal Shaffir.Namun tembakannya tidak berhasil mengenai pesawat serang buatan Uni Soviet tersebut.Sayangnya jarak Mirage III dan Su-7 yang masih terlalu jauh membuat tidak satupun amunisi mengenainya.Hingga akhirnya sang Mirage kehabisan amunisi dan melepas buruannya,Eipstein yang sudah gata;,melepaskan diri dari formasi yang mengejarnya.

Mengetahui masih dikejar,Su-7 tancap gas hingga mendekati kecepatan suara pada ketinggian rendah.Pada jarak 1.200 kaki,Eipstein menekan picu.Namun tidak ada apapun yang terjadi.Rupanya saking tegangnya,Eipstein lupa menghidupkan kanonnya.Cepat-cepat ia arming switch,dan pada jarak 250 kaki,ia menembak.Butiran peluru 30mm kaki memasuki exhaust Su-7 dan menyebabkan ledakan.Fist kill untuk Giora Eipstein.

Mirage III milik Israel Air Forece CJ158 di Museum Angkatan Udara di Hatzerim.Bears 13 kills markings and the colours of 101 squadrons.

Ditolak Sekolah Penerbang
Keistimewaan Eipstein bukan hanya pada keahliannya bertempur di udara.Rekam jejaknya menarik untuk dibahas.Awalnya Eipstein ditolak masuk sekolah penerbang.Akibatnya ia banting stir menjadi pasukan infanteri lepas udara.Pada kesempatan lain,ia kembali mendaftar dan kali ini diterima.Sering bergulat di udara dengan payung,membuatnya tidak panik ketika menghadapi spin.Rupanya banting stir menjadi pasukan payung ada hikmahnya.

Selain itu Eipstein yang mengenakan julukan Hawkeye bukan tanpa alasan,Dia dikenal memiliki penglihatan yang tajam,melebihi rekan-tekannya sesama penerbangan.Mata Eipstein mampu melihat pesawat tempur sejaih 24 mil,sementara standar penerbang tempur hanya mampu melihat hingga 12 mil saja.Hal ini tentu berguna dimana radar belum secanggih sekarang ini.

4 lawan 20
Salah satu kisah menegangkan yang dilakuin oleh Eipstein adalah pada perang Yom Kippur.Saat itu ia harus menghadapi pesawat kepungan MiG.Tepatnya 20 Oktober 1973 yang kini menjadi Ace,memimpin formasi pesawat tempur buatan Israel,Nesher,terbang melintasi terusan Suez.Perintah dari Ground Control Interceptor (GCI).memecah kesunyian.Perintah itu terbang naik ketinggian 20.000 kaki.Operator GCI menginformasikan adanya spot datang dari arah selatan.Eipstein kemudian melihat sepasang MiG-21.Ketika jarak antara kedua formasi hampir berdekatan,MiG-21 tiba-tiba berbelok ke barat dan kabur ke arah Mesir.

Eipstein dan rombongannya tidak tinggal diam.Drop tank pun dilepas dan langsung mengejar buruannya,seeker pada rudal Shaffrir 2 yang dibawa Eipstein menyelak.Good Tone,Fox Two..!! Shafrir 2 telak mengenai wingman MiG-21 Mesir .Tidak membuang waktu,Eipstein segera mengejar pesawat pemimpin.

Sejurus kemudian,dari bawah muncul 20 MiG-21.Banyak sekali.Ternyata formasi Nesher masuk dalam jebakan,Sepasang MiG-21 yang datang di awal tadi ternyata hanyalah bait.Meski demikian,rombongan MiG-21 itu membuat kesalahan.Mereka terbang terlalu rendah dam juga terlalu pelan.Akibatnya ketika mencapai ketinggian Eipstein dkk,kawanan MiG-21 sudah kehilangan momentum.

Meski sudah diserang,Eipstein tetap fokus pada buruannya.Sementara tiga Nesher lainnya tanpa merasa takut ikut bertarung.Pada sebuah kesempatan,wingman Eipstein bahkan menembak jatuh sebuah MiG-21.Sayangnya asap pada rudal yang ditembakkan masuk kedalam mesin dan menyebabkan terjadinya gangguan.

Setelah berhasil mengatasi mesin yang mati,Eipstein memerintah wingman pulang.Nesher lainnya juga kehabisan bahan bakar hingga terpaksa meninggalkan arena.Sementara sebuah Nesher laig sedang mengejar MiG-21 hingga jauh.

Mirage IIICJ 158 dengan 13 kills di Museum AU Israel di Hatzerim,
Giora Eipstein dengan pesawat kirinya.
Kini sisa 11 MiG-21 melawan Eipstein seorang diri.Eipstein tetap sibuk mengejar MiG-21 yang terus berupaya melepaskan diri dari gunsight pesawatnya.Berbagai manuver terus dilakukan hingga pada ketinggian 3.000 kaki,sang MiG-21 nekat melakukan manuver Split-S.Ini merupakan manuver berbahaya,lantaran pada MiG-21 biasanya melakukan Split-S pada ketinggian 6.500 kaki.

Eipstein melihat banyak MiG-21 berbalik dan menukik.Namun ia tidak gegabah mengikuti manuveer itu karena terlalu rendah.Sejenak Eipstein berpikir MiG itu akan jatuh dengan sendirinya,tetapi itu tidak terjadi.

Di dasar gurun,MiG-21 itu tiba-tiba meraung dan menanjak.Debu-debu pasir berterbangan terhempas oleh raungan mesin jet MiG-21 yang terbang lurus bak roket.Namun daya mesinnya tak mampu membuat mesin MiG-21 itu menanjak cepat.Melihat kesempatan itu,Eipstein segera menekanpicu.MiG-21 itu akhirnya tertembak ajtuh,

Sepuluh MIG-21 lainnya mengejar.Eipstein menghindar namun sekali mendapat kesempatan.Ia juga bertahan namun sesekali menyerang juga.Tidak ada kekhawitiran dalam benaknya.Menurutnya,dalam dogfight hanya ada satu pesawat dibelakang anda.

Pada satu kesempatan dikejar MiG,Eipstein menghindar,pop up,menukik,barrel roll ke belakang MiG.MiG yang mengincarnya pun kebablasan.Pemburu menjadi diburu.Rentetan pendek mengenai MiG yang seketika meledak.

Ilustrasi pertempuran udara antara MiG-21 dan Mirage III yang diterbangkan oleh Giora Eipstein melawan 10 MiG-21.
Eipstein pensiun sebagai pangkat kolonel dan kemudian berkerja di maskapai El Al sebagai pilot.


Sepasang MiG-21 itu datang lagi.Eipstein mencium saat-saat MiG akan tertembak,ia pun melakukan manuver break hard yang menyebabkan MiG overshoot.Tidak membuang waktu,ia mulai menembak wingman,Tembakannya tidak menyebabkan ledakkan atau percikan api,meski ia mengenainya,MiG itu kehilangan dan perlahan jatuh.Sayangnya Eipstein tidak bisa memutuskan kill itu.Dia mengejar MiG lainnya.Seeker rudal pada Nesher mengisyaratkan terkunci,good tone.Sayangnya rudal yang ditembak jatuh begitu saja.


Sesungguhnya Eipstein masih mempunyai Amunisi untuk bertempur.Namun apa daya bahan bakarnya hampir habis.Eipstein kembali kepangkalannya.Lucunya,setelah mendarat,ia harus diangkat dari kokpitnya karena lemas setelah 10 menit intensif dogfight.Empat hari kemudian,Eipstein yang kembali mengudara menjatuhkan tiga MiG-21.Total selama Yom Kippur,Eipstein menembak jatuh 12 pesawat musuh.

Seusai perang,Eipstein masih terus terbang bersama AU Israel.Ia sempat dipindahkan ke skadron Kfir,versi pengembangannya Nesher.Lalu pada 1988 Eipstein mencoba kesempatan terbang dengan F-16.Lucunya,ia tidak menyukai F-16.

Menurutnya F-16 sudah canggih dengan terkomputerisasi memang memudahkan kerja pilot,namun pilot sepertinya tidak mendapatkan feeling lagi atau rasa menerbangkan pesawatnya,Akhirnya,tahun 1997,sang Desert Ace ini pensiun sebagai pangkat terakhirnya yaitu kolonel.Ia kemudian berkerja sebagai kapten pilot El Al.

Source:Majalah Angkasa edisi Juni 2017 





Comments

Popular Posts