Friday, February 8, 2019

Kisah F-117A Nighthawk di Baghdad ( Agustus 1990 - Februari 1991)


Perang teluk 1991 menjadi mimpi buruk bagi Irak yang berkali-kali mendapat serangan udara Pasukan Koalisi pimpinan Amerika Serikat.Salah satu pemukul hebat dari udara yang membuat jantung pertahanan Baghdad copot adalah si jet hitam siluman F-117A Nighthawk hasil kreasi divisi "Skunk Works"pabrik Lockheed,Amerika Serikat.

Saat dikerahkan dari basis rahasianya di Tonopah Test Range,Nevada pada 19 Agustus 1990,sebanyak 22 elang malam siluman terbang menuju Pangkalan Khamis Mushait di Saudi Arabia dengan beristirahat semalam di Langley AFB di Virginia.Kawanan jet hitam yang pertama kali dikerahkan ke Perang Teluk ini berasal dari Skadron Tempur Taktis ke-37 pimpinan Letkol Ralph W.Getchell.Mereka dikawal 12 tanker KC-135Q dari Beale AFB.Keesokan harinya,tanker KC-10A dari March AFB turut bergabung dengannya.Dari Langley AFB,hanya 18 unit yang terbang ke Khamis Mushait,sementara empat F-117A Lainnya kembali ke markas.

Perjalanan menuju Khamis Mushait ditempuh selama hampir 15 jam nonstop.Menandakan bahwa pengebom F-117A memiliki kemampuan tinggi ditempatkan di penjuru dunia (global deploy capability).Pada 2 Desember,2- F-117A dari Langley AFB kembali ke Arab Saudi,disusul lagi keesokan harinya.

Tugas yang diberika kepada jet hitam F-117A dalam Perang Teluk adalah menghancurkan sistem pertahanan udara Irak,pusat komando,dan pusat sistem komunikasi.Terbang sejauh 650 mil dari Khamis Mushait menuju Baghdad,F-117A menjatuhkan bom pertamanya sekaligus membuka perang Perang Teluk pada 17 Januari 1991 pukul 2:51.F-117A juga melumpuhkan pusat senjata kimia,nuklir,dan gedung-gedung penting di ibukota Irak.

1.271 sorti

Dalam Perang Teluk,F-117A melaksanakan 1.271 sorti misi dimana sepertiganya dilaksanakan di atas Baghdad.Menembus pertahanan Baghdad bukanlah perkara mudah karena kota seribu satu malam itu dijaga paling sedikit 3.000 senjata artileri dan 20 situs rudal SAM.

Lebih dari 2.000 bom berpemandu laser GPB-27 Paveway III Berbobot 2.000 pon,berhasil dikeluarkan F-117A dalam operasi Badai Gurun (Desert Storm).Bom standar F-117A dalam operasi ini digenapi oleh bom Mk-84 HE atau BLU-109 penetrator warhead atau alternatif yang lain bom GBU-10 dan Paveway II Seeker head,Masing-masing pilot F-117A melaksanakan misi rata-rata 20 kali bahkan hingga 42 kali.Angka ini memang terbilang rendah dibandingkan misi yang dilaksanakan pesawat lain.Akan tetapi,misi F-117A ini memakan waktu yang panjang di atas 5,5 jam dan seluruhnya dilaksanakan pada malam hari.

Dalam penyerangan ke Baghdad,F-117A hanya mengudara 30 menit saja.Bila dilanjutkan ke Tikrit dan Mosul,maka rata-rata penerbangan dilaksanakan di atas Irak menjadi 45 menit.Perangkat sistem navigasi inersial (INS) pada pesawat ini memiliki perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) untuk menandai target,lalu menjejak,dan melepaskan bom.Setelah itu melanjutkannya dengan menggunakan downward-looking infra-red/laser turret.

Dalam kancah Perang Teluk 1,tidak dilaporkan adanya F-117A yang terdeteksi atau tertembak pertahanan udara Irak.Sistem pelacak infra merah Irak mungkin saja mendeteksi kehadiran sang elang malam.Namun lapisan keramik platypus telah mengurangi banyak tingkat panas dari semburan mesin pesawat itu dibandingkan mesin pesawat konvensional.Selain itu,warna yang digunakan pada pesawat ini sangat menyulitkan musuh untuk mengenalinya.Apalagi tugas F-117A pada malam hari.Sampai-sampai pesawat tankerpun kesulitan melihatnya.

Melaksanakan misi berat di Irak,bagi komandan Getchell ada tiga hal yang menentukan.Pertama efektivitas teknologi F-117A,kedua pengorganisasian skill yang baik antara pasukan koalisi,dan ketiga,semangat bangsa AS."Kami berharap bisa melaksanakan misi lainnya di belahan dunia lainnya,"ujar Getchell dalam pertempuran pulang ke markas Tonopahnya.Pesawat yang total dibuat hanya 64 unit ini pada 22 April 2008 resmi dipensiunkan setelah mengabdi selama 25 tahun.

No comments:

Post a Comment